Nama
:agung hutomo putra
Npm
: E1i014019
Prodi
: ilmu kelautan
Quiz
ke 2
1. PULAU
TEKTONIK ?
2. LEMPENGAN
INDONESIA TERLETAK ?
1.) pulau tektonik adalah pulau yang terbentuk atau
menjadi lempengan yang dikelilingi oleh perairan laut
2.)Lempengan tektonik
adalah stuktur dan bentuk bumi khususnya susunan batuan yang membentuk benua,
pulau ataupun gunung. Pulau atau benua pada dasarnya ditopang oleh sebuah plat
atau landasan yang kuat kedasar bumi yang sebagian besar tertutup oleh lautan .
Bumi merupakan salah satu planet
dari galaksi bimasakti. Manusia dan ciptaan Tuhan melangsungkan kehidupan di
bumi. Kita hidup di bumi berada di bagian kerak bumi (lithospher) atau di
permukaan bumi. Permukaan bumi terbentuk dari berbagai macam batuan yang kurang
lebih 80% adalah diselimuti oleh batuan sedimen dengan volume kurang lebih
0,32% dari volume bumi. Setiap daratan di bumi ini di bentuk oleh batuan –
batuan ang bermacam – macam. Dari sejumlah batuan yang memiliki ciri khas yang
berbeda – beda terangkum dalam sebuah lempeng – lempeng yang tersebar di
seluruh dunia. Lempeng – lempeng di permukaan bumi bersifat dinamis, karena
adanya perbedaan perlapisan dan tenaga endogen yang mengakibatkan pergerakan
lempeng. Dari pergerakan lempeng dapat menimbulkan sebuah siklus batuan yang
tak dapat dipungkri adanya.
Lempeng
tektonik adalah bagian dari kerak bumi dan lapisan paling atas, yang disebut
juga lithosphere. Atau menjelaskan tentang gerakan bumi dengan skala besar dari
lithoepher bumi. Teori yang meliputi konsep-konsep lama (kontinental drift)
dikembangkan selama satu setengah abad sejak abad ke-20 oleh Alfred Wegner
tentang lantai samudra (seafloor) pada tahun 1960-an. Lempeng tektonik memiliki
tebal sekitar 100 km (60 mill) yang terdiri dari dua jenis bahan pokok yaitu
kerak samudra (disebut juga sima yang terdiri dari silikon dan magnesium) dan
kerak benua (disebut juga sial yang terdiri dari silicon dan megnesium).
Komposisi dari dua jenis lapisan terluar atau kulit dari kerak samudra adalah
batuan basalt (mafic) dan kerak benua terdiri dari batuan granitic yang prinsip
kepadatannya rendah. Permukaan bumi terdiri dari 15 lempeng besar (mayor) dan
41 lempeng kecil (minor), 11 lempeng kuno dan 3 dalam orogens, dengan jumlah
keseluruhan 70 lempeng tektonik yang tersebar di seluruh permukaan bumi.
Lempeng mayor di bumi di anataranya :
·
African Plate covering Africa - Continental plate Afrika Plate meliputi Afrika - Benua piring
·
Antarctic Plate covering Antarctica - Continental plate Antarctic Plate meliputi Antartika - Benua piring
·
Australian Plate covering Australia - Continental plate Australia Plate meliputi Australia - Benua piring
·
Indian Plate covering Indian subcontinent and a part of Indian Ocean - Continental plate Indian Plate meliputianak benua India dan merupakan bagian dari Samudra Hindia - Benua piring
·
Eurasian Plate covering Asia and Europe - Continental plate Eurasian Plate meliputi Asia dan Eropa - Benua piring
·
North American Plate covering North America and north-east Siberia - Continental plate
·
South American Plate covering South America - Continental plate
Pacific
Plate covering the Pacific
Ocean - Oceanic plate
Lempeng
tetonik memiliki nama yang berbeda – beda sesuai tempat atau asal lempeng itu
berada. Pada 225 juta tahun yang lalu, seluruh daratan di bumi ini merupakan
satu kesatuan yang disebut dengan Benua Pangaea pada zaman permian. Pergerakan
lapisan bumi terus terjadi saat 200 juta tahun yang lalu pada zaman triassic
terbagi menjadi 2 Benua Laurasia dan Benua Gondwanaland. Pergerakan lapisan
bumi terjadi hingga saat ini terbagi menjadi 5 belahan benua. Perubahan keadaan
permukaan bumi terjadi selama 4 zaman kurang lebih selama 225 juta tahun.
Perubahan permukaan bumi ini yang mengakibatkan adanya batas – batas lempeng
tektonik di masing – masing lapisan bumi. Pergerakan yang berasal dari tenaga
endogen ini mengakibatkan sebuah siklus batuan dalam peroses pergeseran
lempeng.
Lempeng tektonik merupakan sebuah
siklus batuan di bumi yang terjadi dalam skala waktu geologi. Sikklus batuan
tersebut terjadi dari pergerakan lempeng bumi yang bersifat dinamis. Dengan
pergerakan lempeng tektonik yang terjadi mampu membentuk muka bumi serta
menimbulkan gejala – gejala atau kejadian – kejadian alam seperti gempa
tektonik, letusan gunung api, dan tsunami. Pergerakan lempeng tektonik di bumi
digolongkan dalam tiga macam batas pergerakan lempeng, yaitu konvergen,
divergen, dan transform (pergeseran).
- Batas Transform.
Terjadi bila dua lempeng tektonik
bergerak saling menggelangsar (slide each other),
yaitu bergerak sejajar namun
berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas
transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform
fault).
- Batas Divergen.
Terjadi
pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break
apart). Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan
terbelah, membentuk batas divergen. Pada lempeng samudra, proses ini
menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading).
Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah
retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua lempeng
yang saling menjauh tersebut. Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic
Ridge) adalah salah satu contoh divergensi
yang
paling terkenal, membujur dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik,
membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan Benua Amerika.
- Batas Konvergen.
Terjadi apabila dua lempeng tektonik
tertelan (consumed) ke arah kerak bumi, yang mengakibatkan keduanya
bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip beneath
another). Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng
benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction
zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang
gunung-api (volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic
trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
Dari ketiga batas lempeng yang mendukung adanya siklus
batuan di bumi ini. Setiap daratan atau negara atau benua di dunia di batasi
oleh lempeng yang berbeda – beda. Dikarenakan sifatnya dinamis dan kekuatan
masing – masing lempeng berbeda – beda, maka terbentuk 3 batas lempeng tektonik
Gempa yang terjadi di akibatkan oleh pergerakan lempeng tektonik. Dan apabila
dilihat pada daerah Indonesia yang merupakan daerah ternbanyak yang dilewati
oleh titik – titik gempa yang tersebar di seluruh nusantara. Disebelah barat
hingga ke selatan dari Indonesia dibatasi oleh lempeng tektonik, disebelah
utara dibatasi dengan lempeng yang berbeda, dan dibagian timur dibatasi dengan
lempeng yang berbeda pula. Jadi Indonesia dibatasi oleh 3 lempeng mayor dunia
yang berbeda. Maka dari itu Indonesia memiliki titik gempa yang tersebar hampir
diseluruh nusantara. Negeri kita tercinta berada di dekat batas lempeng
tektonik Eurasia danIndo-Australia. Jenis batas antara
kedua lempeng ini adalah konvergen. Lempeng Indo-Australia adalah lempeng yang
menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Selain itu di bagian timur, bertemu 3
lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina, Pasifik, dan
Indo-Australia. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, subduksi antara dua
lempeng menyebabkan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan
terbentuknya deretan gunung berapi yang tak lain adalahBukit Barisan di
Pulau Sumatra dan deretan gunung berapi di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan
Lombok, serta parit samudra yang tak lain adalah Parit Jawa (Sunda).
Lempeng tektonik terus bergerak. Suatu saat gerakannya mengalami gesekan atau
benturan yang cukup keras. Bila ini terjadi, timbullah gempa dan tsunami, dan
meningkatnya kenaikan magma ke permukaan. Jadi, tidak heran bila terjadi gempa
yang bersumber dari dasar Samudra Hindia, yang seringkali diikuti dengan
tsunami, aktivitas gunung berapi di sepanjang pulau Sumatra dan Jawa juga turut
meningkat.
Indonesia terletak pada jalur gunungapi tersebut dan
merupakan negara dengan jumlah gunungapi terbanyak. Pola penyebaran gunungapi
menunjukkan jalur yang hampir mirip dengan pola penyebaran fokus gempa dan tipe
aktivitas kegunungapiannya tergantung pada batas lempengnya. Hubungan ini
menunjukkan bahwa volkanismamerupakan salah satu produk penting sistem tektonik.
Akibatnya berbagai gejala alam di Indonesia sering terjadi.
Yang salah satunya banyak di jumpai gunung api di bagian selatan Indonesia yang
merupakan buah karya dari pergerakan lempeng Ino-Australian dengan lempeng
Eurasian. Jumlah gunung api di Indonesia 177 gunung api, Sert gunung api juga
di temui di daerah sebagain dari pulau halmahera dan sebagian dari pulau
sulawesi yang merupakan tempat pertemuan lempeng pasifik dengan lempeng
eurasian.
Dari
segi ilmu kebumian, Indonesia benar-benar merupakan daerah yang sangat menarik.
Kepentingannya terletak pada rupabuminya, jenis dan sebaran endapan mineral
serta energi yang terkandung di dalamnya, keterhuniannya, dan ketektonikaannya.
Oleh sebab itulah, berbagai anggitan (konsep) geologi mulai berkembang di sini,
atau mendapatkan tempat untuk mengujinya (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).
Inilah
wilayah yang memiliki salah satu paparan benua yang terluas di dunia (Paparan
Sunda dan Paparan Sahul), dengan satu-satunya pegunungan lipatan tertinggi di
daerah tropika sehingga bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua), dan di sini
pulalah satu-satunya di dunia terdapat laut antarpulau yang terdalam (-5000
meter) (Laut Banda), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan (-7500
meter) (Dalaman Weber). Dua jalur gunungapi besar dunia bertemu di Nusantara.
Beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia.
Indonesia pun dibentuk oleh pertemuan dua dunia : asal Asia dan asal Australia.
Ini mengakibatkan begitu kayanya biodiversitas Indonesia.
Meskipun
Indonesia hanya meliputi sekitar 4 % dari luas daratan di Bumi, tidak ada satu
negeri pun selain Indonesia yang mempunyai begitu banyak mamalia, 1/8 dari
jumlah yang terdapat di dunia). Bayangkan, satu dari enam burung, amfibia, dan
reptilia dunia terdapat di Indonesia; satu dari sepuluh tumbuhan dunia terdapat
di Indonesia (Kartawinata dan Whitten, 1991). Indonesia juga memiliki
keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara
tropika lainnya. Sejarah geologi dan geomorfologinya yang beranekaragam, dan
kisaran ikim dan ketinggiannya telah mengakibatkan terbentuknya banyak jenis
hutan daratan dan juga hutan rawa, sabana, hutan bakau dan vegetasi pantai
lainnya, gletsyer, danau-danau yang dalam dan dangkal, dan lain-lain.
Salah
satu jalur timah terkaya di dunia menjulur sampai di Nusantara, daerahnya
mempunyai akumulasi minyak dan gasbumi yang tergolong besar. Meskipun berumur
muda, batubara Indonesia yang jumlahnya cukup besar dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan. Tak kalah pentingnya adalah endapan nikel dan kromit yang
terbawa oleh tesingkapnya kerak Lautan Pasifik di beberapa wilayah di Indonesia
Timur.
Bagian
tertentu Indonesia sangat baik untuk dihuni. Ini tidak hanya berlaku saat ini
yang memungkinkan orang dapat bercocok tanam dan memperoleh hasil yang baik
karena tanah subur dan air yang berlimpah, tetapi juga pada masa lampau,
sebagaimana terbukti dengan temuan fosil manusia purba di beberapa tempat di
Indonesia. Maka, Indonesia penting dalam dunia paleoantropologi sebagai salah
satu pusat buaian peradaban manusia di dunia. Semua kepentingan dan keunikan
geologi Indonesia ini timbul karena latar belakang perkembangan tektonik
wilayah Nusantara. Di sinilah wilayah tempat saling bertemunya tiga lempeng
besar dunia : Eurasia - Hindia-Australia - Pasifik yang menghasilkan deretan
busur kepulauan dan jajaran gunungapi, tanah yang subur, pemineralan yang kaya
dan khas, pengendapan sumber energi yang melimpah, dan rupabumi yang
menakjubkan
(Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo,
1993).
Busur Sunda: Produk Geodinamika
Regional
Sistem
penunjaman Sunda merupakan salah satu contoh yang baik untuk menunjukkan
hubungan geodinamika Indonesia dengan geodinamika regional. Sistem penunjaman
Sunda berawal dari sebelah barat Sumba, ke Bali, Jawa, dan Sumatera sepanjang
3.700 km, serta berlanjut ke Andaman-Nicobar dan Burma. Busur ini menunjukkan
morfologi berupa palung, punggungan muka busur, cekungan muka busur, dan busur vulkanik.
Arah penunjaman menunjukkan beberapa variasi, yaitu relatif menunjam tegak
lurus di Sumba dan Jawa serta menunjam miring di sepanjang Sumatera, kepulauan
Andaman dan Burma. Kemiringan ini terjadi karena adanya perbedaan arah gerak
dengan arah tunjaman yang tidak 90o. Sistem penunjaman Sunda ini merupakan tipe
busur tepi kontinen sekaligus busur kepulauan, yang berlangsung selama
Kenozoikum Tengah – Akhir (Katili, 1989; Hamilton, 1989) Menurut Hamilton
(1989) Palung Sunda bukan menunjukkan batas litosfer samudera India, tetapi
merupakan salah satu jejak sistem penunjaman busur Sunda. Penunjaman mempunyai
kemiringan sekitar 7o. Sedimen dalam palung terdiri dari sedimen klastik
turbidit longitudinal, serta menunjukkan pembentuk lantai samudera dan asal turbidit.
Sedimen klastik tersebut terutama berasal dari Sungai Gangga dan Brahmaputra di
India, yang berjarak 3.000 km dari palung. Busur akresi terbentuk selebar 75 –
150 km dari palung dengan ketebalan material terakresi mencapai 15 km. Dinamika
akresi dapat ditunjukkan oleh imbrikasi internal serta pertumbuhan vertikal dan
horisontal material terakresi, yang merupakan hasil penggilasan simultan yang
disertai pemencaran oleh gravitasi. Punggungan muka busur mengalami migrasi,
relatif menuju ke arah kraton. Formasi bancuh di busur akresi dihasilkan oleh
oleh penggerusan yang berhubungan dengan subduksi, bukan oleh luncuran di
lereng punggungan akresi. Cekungan muka busur berada di antara punggungan muka
busur dan garis pantai sistem penunjaman Sunda dengan lebar 150 - 200 km.
Bagian dasar cekungan Jawa dan Sumatera mempunyai kecepatan tipikal litosfer
samudera, dengan kecepatan di sektor Sumatera lebih besar dari litosfer
samudera. Busur vulkanik yang sekarang aktif di atas zona Benioff berada pada
kedalaman 100 – 130 km. Busur magmatik ini berubah dari kecenderungan bersifat
kontinen di Sumatera, transisional di Jawa ke busur kepulauan (oceanic island
arc) di Bali dan Lombok. Komposisi vulkanik muda bervariasi secara sistematis
yang berkesesuaian antara karakter litosfer dengan magma yang dierupsikan.
Berdasarkan
karakteristik morfologi, ketebalan endapan palung busur dan arah penunjaman,
busur Sunda dibagi menjadi beberapa propinsi. Dari timur ke barat terdiri dari
propinsi Jawa, Sumatera Selatan dan Tengah, Sumatera Utara – Nicobar, Andaman
dan Burma. Diantara Propinsi Jawa dan Sumatera Tengah – Selatan terdapat Selat
Sunda yang merupakan batas tenggara lempeng Burma. Provinsi Jawa bermula dari
Sumba sampai Selat Sunda. Di propinsi ini palung Sunda mempunyai kedalaman
lebih dari 6.000 m. Saat ini konvergensi sepanjang propinsi Jawa mencapai 7,5
cm/tahun dengan sudut penunjaman antara 5o – 8o. Sedimen memiliki ketebalan
antara 200 – 900 m. Imbrikasi di bawah punggungan muka busur mempunyai
ketebalan lebih dari 10 km. Palung hanya berisi sedimen tipis dengan sedikit
sedimen pelagis. Kerangka tektonik utama antara Jawa dan Sumatera secara umum
dipotong oleh selat Sunda yang dianggap sebagai zona diskontinyuitas. Selat
Sunda adalah unsur utama pemisah propinsi Jawa dan Sumatera busur Sunda. Selat
ini diasumsikan batas sebagai batas tenggara lempeng Burma. Namun apabila
dicermati dari data geofisika tang ada, batas Jawa dan Sumatera terletak di
sekitar Banten dan Jawa Barat.
Provinsi
Sumatera Selatan dan Tengah mempunyai kedalaman palung yang berangsur menurun
dari 6.000 – 5.000 m. Sedimen dasar palung mempunyai ketebalan sekitar 2 km di
utara dan 1 km di selatan. Penunjaman miring dengan komponen penunjaman menurun
ke utara antara 7,0 – 5,7 cm/tahun. Komponen pergeseran lateral yang bekerja di
lempeng ini diasumsikan sangat berperan dalam membentuk sistem strike slip
fault di Sumatera.
Pada Propinsi Sumatera Utara - Nikobar, di sebelah barat Pulau Simalur sumbu palung menajam ke barat, dan di barat-laut Pulau Simalur cenderung ke utara – barat-laut. Palung mempunyai kedalaman berkisar antara 3.500 – 5.000 m. Pertemuan di sepanjang propinsi ini sangat miring dan kecepatan penunjaman ke arah utara mengalami penurunan 5,6 – 4,1 cm/tahun.
Pada Propinsi Sumatera Utara - Nikobar, di sebelah barat Pulau Simalur sumbu palung menajam ke barat, dan di barat-laut Pulau Simalur cenderung ke utara – barat-laut. Palung mempunyai kedalaman berkisar antara 3.500 – 5.000 m. Pertemuan di sepanjang propinsi ini sangat miring dan kecepatan penunjaman ke arah utara mengalami penurunan 5,6 – 4,1 cm/tahun.
Di
Pulau Andaman palung cenderung berarah utara – selatan dengan kedalaman sekitar
3.000 m. Di propinsi ini pertemuan lempeng sangat miring, dengan kisaran
kecepatan penunjaman berkisar antara 0,7 – 0,2 cm/tahun. Komponen lateral ini
dipengaruhi oleh pemekaran di laut Andaman, dengan lempeng Burma memisah ke
arah barat daya dari lempeng Eurasia.
Palung
Burma mempunyai kedalaman kurang dari 3.000 m. Di sini punggungan muka busur
menjadi punggungan Indoburman dan cekungan muka busur menjadi palung sebelah
barat dari Lembah Burma. Sudut penunjaman yang sangat miring. Ketebalan endapan
di propinsi ini sekitar 8.000 – 10.000 m. Komponen gerak lateral ini
mempengaruhi terbentuknya sesar Sagaing di Burma.
Sesar
Sumatra: Produk Geodinamika Busur Sunda Sesar besar Sumatra dan Pulau Sumatra
merupakan contoh rinci yang menarik untuk menunjukkan akibat tektonik regional
pada pola tektonik lokal. Pulau Sumatera tersusun atas dua bagian utama,
sebelah barat didominasi oleh keberadaan lempeng samudera, sedang sebelah timur
didominasi oleh keberadaan lempeng benua. Berdasarkan gaya gravitasi,
magnetisme dan seismik ketebalan lempeng samudera sekitar 20 kilometer, dan
ketebalan lempeng benua sekitar 40 kilometer (Hamilton, 1979).
Sejarah
tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa
pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta
tahun lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan
relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar
lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng
India-Australia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter / tahun menurun
secara drastis menjadi 40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan
tersebut. Penurunan kecepatan terus terjadi sehingga tinggal 30 milimeter/tahun
pada awal proses konfigurasi tektonik yang baru (Char-shin Liu et al, 1983
dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan yang
mencolok sampai sekitar 76 milimeter/tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja,
1994). Proses tumbukan ini, menurut teori “indentasi” pada akhirnya
mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur
India, untuk mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik (Tapponier dkk,
1982).
Keadaan
Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman, punggungan busur muka
dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses yang terjadi.
Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-tension) Paleosoikum
tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera menunjukkan adanya tiga
bagian pola (Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatera,
yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk, geometri dan struktur
sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak
selaras dengan pola penunjaman. Bagian selatan Pulau Sumatera memberikan
kenampakan pola tektonik: (1) Sesar Sumatera menunjukkan sebuah pola geser
kanan en echelon dan terletak pada 100 ~ 135 kilometer di atas penunjaman, (2)
lokasi gunungapi umumnya sebelah timur-laut atau di dekat sesar, (3) cekungan
busur muka terbentuk sederhana, dengan kedalaman 1 ~ 2 kilometer dan
dihancurkan oleh sesar utama, (4) punggungan busur muka relatif dekat, terdiri
dari antiform tunggal dan berbentuk sederhana, (5) sesar Mentawai dan homoklin,
yang dipisahkan oleh punggungan busur muka dan cekungan busur muka relatif
utuh, dan (6) sudut kemiringan tunjaman relatif seragam.
Bagian utara Pulau Sumatera memberikan kenampakan pola tektonik: (1) sesar Sumatera berbentuk tidak beraturan, berada pada posisi 125 ~ 140 kilometer dari garis penunjaman, (2) busur vulkanik berada di sebelah utara sesar Sumatera, (3) kedalaman cekungan busur muka 1 ~ 2 kilometer, (4) punggungan busur muka secara struktural dan kedalamannya sangat beragam, (5) homoklin di belahan selatan sepanjang beberapa kilometer sama dengan struktur Mentawai yang berada di sebelah selatannya, dan (6) sudut kemiringan penunjaman sangat tajam.
Bagian utara Pulau Sumatera memberikan kenampakan pola tektonik: (1) sesar Sumatera berbentuk tidak beraturan, berada pada posisi 125 ~ 140 kilometer dari garis penunjaman, (2) busur vulkanik berada di sebelah utara sesar Sumatera, (3) kedalaman cekungan busur muka 1 ~ 2 kilometer, (4) punggungan busur muka secara struktural dan kedalamannya sangat beragam, (5) homoklin di belahan selatan sepanjang beberapa kilometer sama dengan struktur Mentawai yang berada di sebelah selatannya, dan (6) sudut kemiringan penunjaman sangat tajam.
Bagian
tengah Pulau Sumatera memberikan kenampakan tektonik: (1) sepanjang 350
kilometer potongan dari sesar Sumatera menunjukkan posisi memotong arah
penunjaman, (2) busur vulkanik memotong dengan sesar Sumatera, (3) topografi
cekungan busur muka dangkal, sekitar 0.2 ~ 0.6 kilometer, dan terbagi-bagi
menjadi berapa blok oleh sesar turun miring , (4) busur luar terpecah-pecah,
(5) homoklin yang terletak antara punggungan busur muka dan cekungan busur muka
tercabik-cabik, dan (6) sudut kemiringan penunjaman beragam. Proses penunjaman
miring di sekitar Pulau Sumatera ini mengakibatkan adanya pembagian /
penyebaran vektor tegasan tektonik, yaitu slip-vector yang hampir tegak lurus
dengan arah zona penunjaman yang diakomodasi oleh mekanisme sistem sesar anjak.
Hal ini terutama berada di prisma akresi dan slip-vector yang searah dengan
zona penunjaman yang diakomodasi oleh mekanisme sistem sesar besar Sumatera.
Slip-vector sejajar palung ini tidak cukup diakomodasi oleh sesar Sumatera
tetapi juga oleh sistem sesar geser lainnya di sepanjang Kepulauan Mentawai,
sehingga disebut zona sesar Mentawai (Diament, 1992).
Selanjutnya sebagai respon tektonik akibat dari bentuk melengkung ke dalam dari tepi lempeng Asia Tenggara terhadap Lempeng Indo-Australia, besarnya slip-vector ini secara geometri akan mengalami kenaikan ke arah barat-laut sejalan dengan semakin kecilnya sudut konvergensi antara dua lempeng tersebut. Pertambahan slip-vector ini mengakibatkan terjadinya proses peregangan di antara sesar Sumatera dan zona penunjaman yang disebut sebagai lempeng mikro Sumatera (Suparka dkk, 1991). Oleh karena itu slip-vector komponen sejajar palung harus semakin besar ke arah barat-laut. Sebagai konsekuensi dari kenaikan slip-vector pada daerah busur-muka ini, maka secara teoritis akan menaikkan slip-rate di sepanjang sesar Sumatera ke arah barat-laut. Pengukuran offset sesar dan penentuan radiometrik dari unsur yang terofsetkan di sepanjang sesar Sumatera membuktikan bahwa kenaikan slip-rate memang benar-benar terjadi (Natawidjaja, Sieh, 1994). Pengukuran slip-rate di daerah Danau Toba menunjukkan kecepatan gerak sebesar 27 milimeter / tahun, di Bukit Tinggi sebesar 12 milimeter / tahun, di Kepahiang sebesar 11 milimeter / tahun (Natawidjaja, 1994) demikian pula di selat Sunda sebesar 11 milimeter / tahun (Zen dkk, 1991)
Selanjutnya sebagai respon tektonik akibat dari bentuk melengkung ke dalam dari tepi lempeng Asia Tenggara terhadap Lempeng Indo-Australia, besarnya slip-vector ini secara geometri akan mengalami kenaikan ke arah barat-laut sejalan dengan semakin kecilnya sudut konvergensi antara dua lempeng tersebut. Pertambahan slip-vector ini mengakibatkan terjadinya proses peregangan di antara sesar Sumatera dan zona penunjaman yang disebut sebagai lempeng mikro Sumatera (Suparka dkk, 1991). Oleh karena itu slip-vector komponen sejajar palung harus semakin besar ke arah barat-laut. Sebagai konsekuensi dari kenaikan slip-vector pada daerah busur-muka ini, maka secara teoritis akan menaikkan slip-rate di sepanjang sesar Sumatera ke arah barat-laut. Pengukuran offset sesar dan penentuan radiometrik dari unsur yang terofsetkan di sepanjang sesar Sumatera membuktikan bahwa kenaikan slip-rate memang benar-benar terjadi (Natawidjaja, Sieh, 1994). Pengukuran slip-rate di daerah Danau Toba menunjukkan kecepatan gerak sebesar 27 milimeter / tahun, di Bukit Tinggi sebesar 12 milimeter / tahun, di Kepahiang sebesar 11 milimeter / tahun (Natawidjaja, 1994) demikian pula di selat Sunda sebesar 11 milimeter / tahun (Zen dkk, 1991)
Sesar
Sumatera sangat tersegmentasi. Segmen-segmen sesar sepanjang 1900 kilometer
tersebut merupakan upaya mengadopsi tekanan miring antara lempeng Eurasia dan
India–Australia dengan arah tumbukan 10°N ~ 7°S. Sedikitnya terdapat 19 bagian
dengan panjang masing-masing segmen 60 ~ 200 kilometer, yaitu segmen Sunda
(6.75°S ~ 5.9°S), segmen Semangko (5.9°S ~ 5.25°S), segmen Kumering (5.3°S ~
4.35°S), segmen Manna (4.35°S ~ 3.8°S), segmen Musi (3.65°S ~ 3.25°S), segmen
Ketaun (3.35°S ~ 2.75°S), segmen Dikit (2.75°S ~ 2.3°S), segmen Siulak (2.25°S
~ 1.7°S), segmen Sulii (1.75°S ~ 1.0°S), segmen Sumani (1.0°S ~ 0.5°S), segmen
Sianok (0.7°S ~ 0.1°N), segmen Barumun (0.3°N ~ 1.2°N), segmen Angkola (0.3°N ~
1.8°N), segmen Toru (1.2°N ~ 2.0°N), segmen Renun (2.0°N ~ 3.55°N), segmen
Tripa (3.2°N ~ 4.4°N), segmen Aceh (4.4°N ~ 5.4°N), segmen Seulimeum (5.0°N ~
5.9°N)
Tatanan
tektonik regional sangat mempengaruhi perkembangan busur Sunda. Di bagian
barat, pertemuan subduksi antara lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra
Australia mengkontruksikan busur Sunda sebagai sistem busur tepi kontinen
(epi-continent arc) yang relatif stabil; sementara di sebelah timur pertemuan
subduksi antara lempeng samudra Australia dan lempeng-lempeng mikro Tersier
mengkontruksikan sistem busur Sunda sebagai busur kepulauan (island arc)
kepulauan yang lebih labil. Perbedaan sudut penunjaman antara propinsi Jawa dan
propinsi Sumatera Selatan busur Sunda mendorong pada kesimpulan bahwa batas busur
Sunda yang mewakili sistem busur kepulauan dan busur tepi kontinen terletak di
selat Sunda. Penyimpulan tersebut akan menyisakan pertanyaan, karena pola
kenampakan anomali gaya berat (gambar 2.6) menunjukkan bahwa pola struktur Jawa
bagian barat yang cenderung lebih sesuai dengan pola Sumatera dibanding dengan
pola struktur Jawa bagian Timur. Secara vertikal perkembangan struktur masih
menyisakan permasalahan namun jika dilakukan pembangingan dengan struktur
cekungan Sumatra Selatan, struktur-struktur di Pulau Sumatra secara vertikal
berkembang sebagai struktur bunga.
Tektonik Indonesia Barat dan Timur
Tektonik Indonesia Barat dan Timur
Pembahasan
tatanan teknonik Indonesia menggunakan pendekatan tektonik lempeng telah lama
dilakukan. Aplikasi teori ini untuk menerangkan gejala geologi regional di
Indonesia dilakukan oleh Hamilton (1970, 1973, 1978), Dickinson (1971), dan
Katili (1975, 1978, 1980). Secara setempat-setempat Audley-Charles (1974)
menerapkan teori ini untuk menjelaskan gejala geologi kawasan Pulau Timor, Rab
Sukamto (1975) dan Simanjuntak (1986) menerapkannya untuk memahami keruwetan
Sulawesi. Sartono (1990) mengemukakan bahwa tatanan tektonik Indoenesia selama
Neogen yang dipengaruhi oleh tatanan geosinklin pasca Larami. Busur-busur
geosiklin ini merupakan zona akibat proses tumbukan kerak benua dan samudra.
Kerak benua yang bekerja pada waktu itu terdiri dari kerak benua Australia,
kerak benua Cina bagian selatan, benua mikro Sunda, kerak samudra Pasifik, dan
kerak samudra Sunda. Tumbukan Larami tersebut membentuk busur-busur geosinklin
Sunda, Banda, Kalimantan utara dan Halmahera-Papua. Peta anomali gaya berat
dapat menunjukkan dengan baik pola hasil tektonik ini. Tatanan tektonik
Indonesia bagian barat menunjukkan pola yang relatif lebih sederhana dibanding
Indonesia timur. Kesederhanaan tatanan tektonik tersebut dipengaruhi oleh
keberadaan Paparan Sunda yang relatif stabil. Pergerakan dinamis menyolok hanya
terjadi pada perputaran Kalimantan serta peregangan selat Makassar. Hal ini
terlihat pada pola sebaran jalur subduksi Indonesia Barat (Katili dan Hartono,
1983, dan Katili, 1986; dalam Katili 1989). Sementara keberadaan benua mikro
yang dinamis karena dipisahkan oleh banyak sistem sesar (Katili, 1973 dan
Pigram dkk., 1984 dalam Sartono, 1990) sangat mempengaruhi bentuk kerumitan
tektonik Indonesia bagian timur.
Manfaat dari tatanan lempeng
tektonik Indonesia
Penyebaran
mineral ekonomis di Indonesia ini tidak merata. Seperti halnya penyebaran
batuan, penyebaran mineral ekonomis sangat dipengaruhi oleh tatanan geologi
Indonesia yang rumit. Berkenaan dengan hal tersebut, maka usaha-usaha
penelusuran keberadaan mineral ekonomis telah dilakukan oleh banyak orang.
Mineral ekonomis adalah mineral bahan galian dan energi yang mempunyai nilai
ekonomis. Mineral logam yang termasuk golongan ini adalah tembaga, besi, emas,
perak, timah, nikel dan aluminium. Mineral non logam yang termasuk golongan ini
adalah fosfat, mika, belerang, fluorit, mangan. Mineral industri adalah mineral
bahan baku dan bahan penolong dalam industri, misalnya felspar, ziolit,
diatomea. Mineral energi adalah minyak, gas dan batubara atau bituminus
lainnya. Belakangan panas bumi dan uranium juga masuk dalam golongan ini
walaupun cara pembentukannya berbeda. (Sudradjat, 1999)
Keberadaan Mineral Logam
Pembentukan
mineral logam sangat berhubungan dengan aktivitas magmatisme dan vulkanisme,
pada saat proses magmatisme akhir (late magmatism), pada suhu sekitar 200oC.
Westerveld (1952) menerbitkan peta jalur kegiatan magmatik. Dari peta tersebut
dapat diperkirakan kemungkinan keterdapatan mineral logam dasar yang
pembentukannya berkaitan dengan kegiatan magmatik. Carlile dan Mitchell (1994),
berdasarkan data-data mutakhir Simanjuntak (1986), Sikumbang (1990), Cameron
(1980), Adimangga dan Trail (1980), memaparkan busur-busur magmatik seluruh
Indonesia sebagai dasar eksplorasi mineral. Teridentifikasikan 15 busur
magmatik, 7 diantaranya membawa jebakan emas dan tembaga, dan 8 lainnya belum
diketahui. Busur yang menghasilkan jebakan mineral logam tersebut adalah busur
magmatik Aceh, Sumatera-Meratus, Sunda-Banda, Kalimantan Tengah,
Sulawesi-Mindanau Timur, Halmahera Tengah, Irian Jaya. Busur yang belum
diketahui potensi sumberdaya mineralnya adalah Paparan Sunda, Borneo
Barat-laut, Talaud, Sumba-Timor, Moon-Utawa dan dataran Utara Irian Jaya.
Jebakan tersebut merupakan hasil mineralisasi utama yang umumnya berupa
porphyry copper-gold mineralization, skarn mineralization, high sulphidation
epithermal mineralization, gold-silver-barite-base metal mineralization, low
sulphidation epithermal mineralization dan sediment hosted mineralization.
Jebakan
emas dapat terjadi di lingkungan batuan plutonik yang tererosi, ketika kegiatan
fase akhir magmatisme membawa larutan hidrotermal dan air tanah. Proses ini
dikenal sebagai proses epitermal, karena terjadi di daerah dangkal dan suhu
rendah. Proses ini juga dapat terjadi di lingkungan batuan vulkanik (volcanic
hosted rock) maupun di batuan sedimen (sedimen hosted rock), yang lebih dikenal
dengan skarn. Contoh cukup baik atas skarn terdapat di Erstberg (Sudradjat,
1999). Skarn Erstberg berupa roofpendant batugamping yang diintrusi oleh
granodiorit. Sebaran skarn dikontrol oleh oleh struktur geologi setempat.
Sebagai sebuah roofpendant, zona skarn bergradasi dari metasomatik contact
sampai metamorphic zone (Juharlan, 1993).
Konsep
cebakan emas epitermal merupakan hal baru yang memberikan perubahan signifikan
pada potensi emas Indonesia. Cebakan yang terbentuk secara epitermal ini
terdapat pada kedalaman kurang dari 200 m, dan berasosiasi dengan batuan
gunungapi muda berumur kurang dari 70 juta tahun. Sebagian besar host rock
merupakan batuan vulkanik, dan hanya beberapa yang merupakan sediment hosted
rock. Cebakan emas epitermal umumnya terbentuk pada bekas-bekas kaldera dan
daerah retakan akibat sistem patahan.
Proses mineralisasi dalam di lingkungan batuan vulkanik ini dikenal sebagai sistem porfiri (porphyry). Contoh baik atas porfiri terdapat di kompleks Grasberg di Papua, dengan mineralisasi utama bersifat disseminated sulfide dengan mineral bijih utama kalkopirit yang banyak pada veinlet (MacDonald, 1994). Contoh lain terdapat di Pongkor dan Cikotok di Jawa Barat, Batu Hijau di Sumbawa, dan Ratotok di Minahasa. Lingkungan lain adalah kondisi gunungapi di daerah laut dangkal. Air laut yang masuk ke dalam tubuh bumi berperan membawa larutan mineral ke permukaan dan mengendapkannya. Contoh terbaik atas proses ini terjadi di Pulau Wetar, yang menghasilkan mineral barit. Proses pengkayaan batuan karena pelapukan dikenal dengan nama pengkayaan supergen. Batuan granitik yang lapuk akan menghasilkan mineral pembawa aluminium, antara lain bauxit. Proses ini sangat berhubungan dengan keberadaan jalur magmatik, berupa subduksi pada lempeng benua bersifat asam, sehingga menghasilkan baruan bersifat asam. Contoh pelapukan granit ini antara lain terjadi di Kalimantan Barat, Bangka, Belitung dan Bintan. Peridotit terbentuk di lingkungan lempeng samudera yang akan kaya mineral berat besi, nikel, kromit, magnesium dan mangan. Keberadaannya di permukaan disebabkan oleh lempeng benua Pasifik yang terangkat ke daratan oleh proses obduksi dengan lempeng benua Eurasia, yang kemudian “disebarkan” oleh sesar Sorong (Katili, 1980) sebagai pulau-pulau kecil di berada di kepulauan Maluku. Pelapukan akan menguraikan batuan ultrabasa tersebut menjadi mineral terlarut dan tak terlarut. Air tanah melarutkan karbonat, kobalt dan magnesium, serta membawa mineral besi, nikel, kobalt, silikat dan magnesium silikat dalam bentuk koloid yang mengendap. Endapan kaya nikel dan magnesium oksida disebut krisopas, dan cebakan nikel ini disebut saprolit. Proses pelapukan peridotit akan menghasilkan saprolit, batuan yang kaya nikel. Pelapukan ini terjadi di sebagian kepulauan Maluku, antara lain di pulau Gag, Buton dan Gebe (Sudrajat, 1999).
Proses mineralisasi dalam di lingkungan batuan vulkanik ini dikenal sebagai sistem porfiri (porphyry). Contoh baik atas porfiri terdapat di kompleks Grasberg di Papua, dengan mineralisasi utama bersifat disseminated sulfide dengan mineral bijih utama kalkopirit yang banyak pada veinlet (MacDonald, 1994). Contoh lain terdapat di Pongkor dan Cikotok di Jawa Barat, Batu Hijau di Sumbawa, dan Ratotok di Minahasa. Lingkungan lain adalah kondisi gunungapi di daerah laut dangkal. Air laut yang masuk ke dalam tubuh bumi berperan membawa larutan mineral ke permukaan dan mengendapkannya. Contoh terbaik atas proses ini terjadi di Pulau Wetar, yang menghasilkan mineral barit. Proses pengkayaan batuan karena pelapukan dikenal dengan nama pengkayaan supergen. Batuan granitik yang lapuk akan menghasilkan mineral pembawa aluminium, antara lain bauxit. Proses ini sangat berhubungan dengan keberadaan jalur magmatik, berupa subduksi pada lempeng benua bersifat asam, sehingga menghasilkan baruan bersifat asam. Contoh pelapukan granit ini antara lain terjadi di Kalimantan Barat, Bangka, Belitung dan Bintan. Peridotit terbentuk di lingkungan lempeng samudera yang akan kaya mineral berat besi, nikel, kromit, magnesium dan mangan. Keberadaannya di permukaan disebabkan oleh lempeng benua Pasifik yang terangkat ke daratan oleh proses obduksi dengan lempeng benua Eurasia, yang kemudian “disebarkan” oleh sesar Sorong (Katili, 1980) sebagai pulau-pulau kecil di berada di kepulauan Maluku. Pelapukan akan menguraikan batuan ultrabasa tersebut menjadi mineral terlarut dan tak terlarut. Air tanah melarutkan karbonat, kobalt dan magnesium, serta membawa mineral besi, nikel, kobalt, silikat dan magnesium silikat dalam bentuk koloid yang mengendap. Endapan kaya nikel dan magnesium oksida disebut krisopas, dan cebakan nikel ini disebut saprolit. Proses pelapukan peridotit akan menghasilkan saprolit, batuan yang kaya nikel. Pelapukan ini terjadi di sebagian kepulauan Maluku, antara lain di pulau Gag, Buton dan Gebe (Sudrajat, 1999).
Keberadaan Minyak dan Gas Bumi
Energi
minyak dan gas bumi mempunyai peran yang sangat strategis dalam berbagai
kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pada umumnya minyak bumi dewasa ini
memiliki peran sekitar 80% dari total pasokan energi untuk konsumsi kebutuhan
energi di Indonesia. Dengan demikian peran minyak dan gas bumi dalam
peningkatan perolehan devisa negara masih sangat diperlukan. Nayoan dkk. (1974)
dalam Barber (1985) menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara
cekungan minyak bumi yang berkembang di berbagai tempat dengan elemen-elemen
tektonik yang ada. Cekungan-cekungan besar di wilayah Asia Tenggara
merepresentasikan kondisi setiap elemen tektonik yang ada, yaitu cekungan busur
muka (forearc basin), cekungan busur belakang (back-arc basin), cekungan intra
kraton (intracratonic basin), dan tepi kontinen (continent margin basin), dan
zona tumbukan (collision zone basin). Berdasarkan data terakhir yang
dikumpulkan dari berbagai sumber, telah diketahui ada sekitar 60 basin yang
diprediksi mengandung cebakan migas yang cukup potensial. Diantaranya basin
Sumatera Utara, Sibolga, Sumatera Tengah, Bengkulu, Jawa Barat Utara, Natuna
Barat, Natuna Timur, Tarakan, Sawu, Asem-Asem, Banda, dll.
Cekungan
busur belakang di timur Sumatera dan utara Jawa merupakan lapangan-lapangan
minyak paling poduktif. Pematangan minyak sangat didukung oleh adanya heat flow
dari proses penurunan cekungan dan pembebanan. Proses itu diperkuat oleh
gaya-gaya kompresi telah menjadikan berbagai batuan sedimen berumur Paleogen
menjadi perangkap struktur sebagai tempat akumulasi hidrokarbon (Barber, 1985).
Secara lebih rinci, perkembangan sistem cekungan dan perangkap minyak bumi yang
terbentuk sangat dipengaruhi oleh tatanan struktur geologi lokal. Sebagai
contoh, struktur pull apart basin menentukan perkembangan sistem cekungan
Sumatera Utara (Davies, 1984). Perulangan gaya kompresif dan ekstensional dari
proses peregangan berarah utara-selatan mempengaruhi pola pembentukan
antiklinorium dan cekungan Palembang yang berarah N300oE (Pulunggono, 1986).
Demikian pula pola sebaran cekungan Laut Jawa sebelah selatan sangat
dipengaruhi oleh pola struktur berarah timur-barat (Brandsen & Mattew,
1992), sedang pola cekungan di Laut Jawa bagian barat-laut berarah berarah
timur-laut – baratdaya, sedang pola cekungan di timur-laut berarah barat-laut –
tenggara. Cekungan Kutai dan Tarakan merupakan cekungan intra kraton
(intracratonic basin) di Indonesia. Pembentukan cekungan terjadi selama Neogen
ketika terjadi proses penurunan cekungan dan sedimentasi yang bersifat
transgresif, dan dilanjutkan bersifat regresif di Miosen Tengah (Barber, 1985).
Pola-pola ini menjadiken pembentukan delta berjalan efektif sebagai pembentuk
perangkap minyak bumi maupun batubara.
Zona
tumbukan (collision zone), tempat endapan-endapan kontinen bertumbukan dengan
kompleks subduksi, merupakan tempat prospektif minyak bumi. Cekungan Bula,
Seram, Bituni dan Salawati di sekitar Kepala burung Papua, cekungan lengan
timur Sulawesi, serta Buton, merupakan cekungan yang masuk dalam kategori ini.
(Barber, 1985). Keberadaan endapan aspal di Buton berasosiasi dengan zona
tumbukan antara mikro kontinen Tukang Besi dengan lengan timur-laut Sulawesi,
dengan Banggai Sula sebagai kompleks ofiolit (Barber, 1985; Sartono, 1999).
Kehadiran minyak di Papua berasosiasi dengan lipatan dan patahan Lenguru, yang
merupakan tumbukan mikro kontinen Papua Barat dengan tepi benua Australia
(Barber, 1985). Sumber dan reservoar hidrokarbon terperangkap struktur di
bagian bawah foot-wall sesar normal serta di bagian bawah hanging-wall sesar
sungkup (Simanjuntak dkk, 1994.
Keberadaan Batubara dan Bituminus
Parameter
yang mengendalikan bembentukan batubara adalah (1) sumber vegetasi, (2) posisi
muka air tanah (3) penurunan yang terjadi bersamaan dengan pengendapan, (4)
penurunan yang terjadi setelah pengendapan, (5) kendali lingkungan geotektonik
endapan batubara dan (6) lingkungan pengendapan terbentuknya batubara. Batubara
lazim terbentuk di lingkungan (1) dataran sungai teranyam, (2) lembah aluvial,
(3) dataran delta, (4) pantai berpenghalang dan (5) estuaria (Diessel, 1992).
Batubara di Indonesia umumnya menyebar tidak merata, 60% terletak di Sumatera
Selatan dan 30% di Kalimantan Timur dan Selatan. Sebagian besar batubara
terbentuk di lingkungan litoral, paralik dan delta, sedang beberapa terbentuk
di lingkungan cekungan antar pegunungan. Kualitas batubara umumnya berupa
bituminous, termasuk dalam steaming coal. Antrasit berkualitas rendah karena
pemanasan oleh intrusi ditemukan di Bukit Asam, Sumatera dan Kalimantan Timur
sedang pematangan karena tekanan tektonik terbentuk di Ombilin, Sumatera Barat
(Sudradjat, 1999).
Urutan kualitas batubara cenderung menggambarkan umurnya. Selama ini batubara di Indonesia dihasilkan oleh cekungan berumur Tersier. Gambut berumur Resen sampai Paleosen, batubara sub bituminus berumur Miosen dan batubara bituminus berumur Eosen.
Urutan kualitas batubara cenderung menggambarkan umurnya. Selama ini batubara di Indonesia dihasilkan oleh cekungan berumur Tersier. Gambut berumur Resen sampai Paleosen, batubara sub bituminus berumur Miosen dan batubara bituminus berumur Eosen.
Keberadaan Panasbumi
Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki panas bumi terbesar di dunia.
Panasbumi sebaai energi alternatif tidak mempunyai potensi bahaya seperti
energi nuklir, serta dari sisi pencemaran jauh lebih rendah dari batubara.
Keberadaan lapangan panas bumi tersebut secara umum dikontrol oleh keberadaan
sistem gunungapi. Di Indonesia lapangan panasbumi tersebar di sepanjang jalur
gunungapi yang memperlihatkan kegiatan sejak Kwarter hingga saat ini. Jalur ini
merentang dari ujung barat-laut Sumatera sampai kepulau Nusatenggara, kemudian
melengkung ke Maluku dan Sulawesi Utara. Pada jalur memanjang sekitar 7.000 km,
dengan lebar 50-200 km tersebut, terdapat 217 lokasi prospek, terdiri dari 70
lokasi prospek entalpi tinggi (t > 200oC) dan selebihnya entalpi menengah
dan rendah. Lapangan prospek tersebut tersebar di Sumatera (31), Jawa-Bali
(22), Sulawesi (6), Nusatenggara (8) dan Maluku (3), dengan seluruh potensi
mencapai 20.000 MWe, dengan total cadangan sekitar 9.100 Mwe. Pengembangan
geotermal di Indonesia saat ini dikonsentrasikan di Sumatera, Jawa-Bali dan
Sulawesi Utara. Hal ini dikarenakan kawasan tersebut telah memiliki
infrastruktur yang memadai serta memiliki pertumbuhan kebutuhan listrik yang
tinggi. (Sudrajat, 1982: Sudarman dkk., 1998)
Mineralisasi Busur Vulkanik Jawa:
Sebuah
Contoh Busur vulkanik Jawa merupakan bagian dari busur vulkanik Sunda-Banda
yang membentang dari Sumatera hingga Banda, sepanjang 3.700 km yang dikenal
banyak mengandung endapan bijih logam (Carlile & Mitchell, 1994). Batuan
vulkanik hasil kegiatan gunungapi yang berumur Eosen hingga sekarang merupakan
penyusun utama pulau Jawa. Terbentuknya jalur gunungapi ini merupakan hasil
dinamika subduksi ke arah utara lempeng Samudera Hindia ke Lempeng Benua
Eurasia (Katili, 1989) yang berlangsung sejak jaman Eosen (Hall, 1999). Kerak
kontinen yang membentuk tepi benua aktif (active continent margin) mempengaruhi
kegiatan vulkanisme Tersier Jawa bagian barat, sedang kerak samudera yang
membentuk busur kepulauan (island arc) mempengarui kegiatan vulkanisme Tersier
Jawa bagian timur (Carlile & Mitchell, 1994).
Jalur
penyebaran gunungapi di Indonesia terdiri dari jalur gunungapi tua (Tersier)
dan muda (Kwarter), yang sejajar dengan jalur penunjaman. Kegiatan vulkanisma
Tersier terjadi dalam dua perioda, yaitu perioda Eosen Akhir – Miosen Awal yang
sebagian besar berafinitas toleitik dan perioda Miosen Akhir – Pliosen yang
sebagian besar berafinitas alkali kapur K tinggi (Soeria-Atmadja dkk, 1991)
beberapa batuan berafinitas shosonitik terdapat di Pacitan dan Jatiluhur
(Sutanto, 1993). Berdasarkan pentarikhan umur dengan menggunakan metoda K/Ar,
batuan volkanik Tersier tertua terdapat di Pacitan dengan umur 42,7, juta
tahun, sedang termuda terdapat di Bayah dengan umur 2,65 juta tahun
(Soeria-Atmadja, 1991). Kegiatan vulkanisma umumnya menghasilkan komposisi
batuan bersifat andesitik. Beberapa singkapan batuan beku bersifat dasitik
terdapat di beberapa tempat, misalnya intrusi dasit Ciemas Jawa Barat dan
granodiorit Meruberi Jawa Timur serta retas-retas basalt yang banyak terdapat
di Kulonprogo Yogyakarta dan Pacitan Jawa Timur (Soeria-Atmadja, 1991; Sutanto,
1993; Paripurno dan Sutarto, 1996). Pola ritmik initerjadi karena adanya
perubahan sudut penunjaman.
Sutanto
(1993) mengelompokkan batuan vulkanik Jawa berdasarkan waktu terbentuknya,
yaitu batuan-batuan vulkanik yang terbentuk oleh (1) Eosen-Oligosen awal, (2)
vulkanisme Eosen-Miosen Akhir, (3) vulkanisme Eosen Akhir – Miosen Awal, (4)
vulkanisme Miosen Tengah – Pliosen, serta (5) vulkanisme Kwarter. Batuan-batuan
volkanik Tersier di atas dikenal sebagai batuan vulkanik kelompok Andesit Tua
(van Bemmerlen, 1933), yang saat ini lebih dikenal dengan nama Formasi Jampang,
Formasi Cikotok dan Formasi Cimapag untuk wilayah Jawa Barat; Formasi Gabo,
Formasi Totogan, untuk wilayah Kebumen dan sekitarnya; Formasi Kebo, Formasi
Butak, Formasi Semilir, Formasi Nglanggran, Formasi Semilir, untuk kawasan
Gunungsewu dan sekitarnya; serta Formasi Kaligesing, Formasi Dukuh, Formasi
Giripurwo untuk wilayah Kulonprogo dan sekitarnya; serta di Jawa Timur dikenal
dengan nama Formasi Besole, Formasi Mandalika dan Fomasi Arjosari.
Proses
hidrotermal di Jawa yang terdapat mulai dari Pongkor Jawa Barat sampai Sukamade
Jawa Timur. Sebagian besar cebakan merupakan tipe low sulphidation epithermal
mineralization. Tipe lain berupa volcanogenic massive sulphide mineralization,
misalnya terdapat di Cibuniasih; sedang tipe veins assosiated with porphyry
system misalnya terdapat di Ciomas, dan sediment hosted mineralization hanya
terdapat di beberapa tempat, misalnya di Cikotok.
Secara
umum cadangan yang terdapat di Jawa bagian barat lebih besar dibanding yang
terdapat di Jawa bagian timur. Cadangan terbesar di Jawa bagian barat terdapat
di Pongkor dengan kadar rata-rata 17,4 (Sumanagara dan Sinambela, 1991) dan
jumlah cadangan lebih dari 98 ton Au dan 1.026 Ag (Milesi dkk, 1999).
Vulkanisme yang terkait dengan mineralisasi umumnya menunjukkan umur yang
relatif muda, Miosen Tengah – Pliosen. Pentarikhan pada beberapa urat di
Pongkor menunjukkan umur 2,7 juta tahun, di Cirotan menujukkan umur 1,7 juta
tahun, serta di Ciawitali menujukkan umur 1,5 juta tahun. Di Cirotan urat-urat
tersebut
memotong
ignimbrit riodasit berumur 9,5 juta tahun yang diintrusi oleh mikrodiorit
berumur 4,5 juta tahun (Milesi dkk., 1994). Di Pongkor urat-urat tersebut
berada pada lingkungan vulkanik kaldera purba yang terdiri dari batuan tufa
breksi, piroklastika dan lava bersusunan andesit-basalt yang diintrusi oleh
andesit, dasit dan basalt (Sumanagara dan Sinambela, 1991).
Gempa
dan bencana lain suatu saat dan kapan saja akan terjadi pada kita. Namun
daibalik dari semua itu ada sisi baik dari sebuah bencana yang terjadi selama
ini dengan kelimpahan selain sumber daya alam adalah berupa bahan tambang yang
telah dapat kita nimati. Rasa syukur kita senantiasa menjauhkan kita dari
bencana dan marabahaya yang sewaktu – waktu datang pada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar